0251-8625066 | gizi_fema@apps.ipb.ac.id
  • Follow us :

Blog

Isu Jurnal Ilmu Gizi dan Dietetik edisi Juni 2025 dari Peran Ayah hingga Jus Buah Naga untuk Atlet

Berita Jurnal Ilmu Gizi Dietetik

Jurnal Gizi pada edisi Juni 2025 menghadirkan sepuluh artikel ilmiah yang membahas isu-isu strategis seputar gizi, kesehatan masyarakat, dan inovasi pangan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pendampingan gizi pada ibu baduta mampu meningkatkan pengetahuan, sikap, dan praktik pemberian makan anak. Walaupun perubahan status gizi anak tidak terlihat signifikan dalam jangka pendek, intervensi ini tetap penting sebagai fondasi perbaikan gizi keluarga.

Pada kelompok remaja, riset mengungkap paradoks menarik. Meski sekitar 70% memiliki status gizi baik dan lebih dari separuh merasa percaya diri dengan citra tubuhnya, kualitas diet mereka justru rendah dengan skor rata-rata hanya 40%. Tingginya intensitas penggunaan media sosial juga terbukti memengaruhi persepsi tubuh, sehingga diperlukan intervensi kesehatan yang lebih komprehensif untuk generasi muda.

Peran ayah dalam gizi anak juga mulai mendapatkan sorotan. Tinjauan sistematis menegaskan bahwa keterlibatan ayah dapat mendorong anak lebih banyak mengonsumsi sayur, buah, dan makanan berprotein. Hambatan seperti norma gender dan minimnya pengetahuan gizi memang masih ada, namun edukasi keluarga dan pemanfaatan teknologi berpotensi menjadi solusi.

Konsumsi protein hewani juga menjadi perhatian penting. Penelitian menemukan bahwa konsumsi daging unggas berhubungan signifikan dengan penurunan angka stunting pada anak di Jawa dan Bali. Menariknya, konsumsi ikan justru berkorelasi dengan peningkatan stunting, bukan karena ikannya, tetapi karena sebagian besar dikonsumsi dalam bentuk olahan yang rendah nilai gizinya.

Dari sisi inovasi pangan, dua penelitian hadir dengan temuan unik. Es krim pisang kepok–porang dikembangkan sebagai camilan sehat bagi penderita diabetes. Meski belum sepenuhnya memenuhi standar gizi, produk ini kaya serat dan berpotensi menjadi alternatif menarik. Sementara itu, ekstrak kulit jengkol menunjukkan potensi sebagai antidiabetes tipe 2 karena mampu menghambat enzim yang berperan dalam metabolisme gula darah.

Hubungan antara gizi dan olahraga juga banyak dikaji. Pada atlet silat remaja, tidak ditemukan hubungan signifikan antara asupan gizi dan daya tahan otot, sehingga faktor latihan fisik tampak lebih dominan. Namun, penelitian lain membuktikan bahwa jus buah naga-semangka (Segam) mampu meningkatkan kapasitas VO₂max dan mempercepat pemulihan denyut nadi pada atlet sepakbola.

Di bidang edukasi kesehatan, media pop-up book terbukti efektif meningkatkan pengetahuan gizi siswa SMP tentang hipertensi. Dengan tampilan yang menarik dan interaktif, media ini mendapat respons positif dari siswa, bahkan direkomendasikan untuk melibatkan orang tua agar dampaknya lebih luas.

Dari dapur rumah tangga hingga lapangan olahraga, penelitian-penelitian ini memberi gambaran bahwa gizi bukan sekadar urusan makan, melainkan juga terkait pendidikan, budaya, serta inovasi pangan. Hasil-hasil ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi kebijakan dan perubahan perilaku menuju masyarakat yang lebih sehat. (CDA)