0251-8625066 | gizi_fema@apps.ipb.ac.id
  • Follow us :

Blog

Isu Terkini Jurnal Ilmu Gizi dan Dietetik edisi Maret 2025 dari Wasting hingga Perilaku Konsumsi Mahasiswa

Berita / Berita Jurnal Ilmu Gizi Dietetik

Jurnal Ilmu Gizi dan Dietetik edisi Maret 2025 menghadirkan beragam hasil penelitian menarik seputar isu-isu terkini di bidang gizi masyarakat, dietetik, pendidikan gizi, hingga aspek sosial budaya pangan. Artikel pertama mengungkap bahwa penyakit infeksi dan faktor kebersihan menjadi penentu utama kasus wasting (gizi buruk dengan berat badan rendah) pada balita di Kabupaten Siak. Kondisi ini menunjukkan pentingnya upaya pencegahan infeksi dan peningkatan sanitasi untuk menekan masalah gizi anak.

Menariknya, sebuah studi yang dilakukan pada mahasiswa UIN Jakarta justru menemukan hasil berbeda dari teori umum: konsumsi makanan ultra-proses (ultra-processed food/UPF) ternyata tidak berhubungan signifikan dengan status gizi mahasiswa. Namun, di sisi lain, penelitian pada siswa SMA Negeri 1 Kejuruan Muda menunjukkan hal sebaliknya: konsumsi junk food yang sering terbukti meningkatkan risiko kegemukan hingga hampir empat kali lipat.

Beberapa artikel juga menyoroti gaya hidup mahasiswa, mulai dari penggunaan aplikasi pemesanan makanan online hingga kebiasaan membaca label gizi. Penelitian di IPB University menyimpulkan bahwa penggunaan aplikasi pesan makanan online berhubungan dengan meningkatnya konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak, dipengaruhi oleh diskon, variasi menu, hingga viral marketing. Selain itu, studi lain menemukan perbedaan signifikan antara mahasiswa gizi dan non-gizi dalam hal pengetahuan, sikap, serta perilaku membaca label gizi. Meski demikian, sebagian besar mahasiswa gizi pun masih tergolong memiliki perilaku membaca label yang kurang baik. Tak kalah menarik, penelitian tentang perilaku picky eating (pemilih makanan) di kalangan mahasiswa IPB University menemukan kaitan kuat antara perilaku tersebut dengan kualitas diet yang buruk, terutama rendahnya konsumsi sayur, buah, dan protein nabati.

Hasil penelitian di Desa Babakan menunjukkan bahwa tingkat pendidikan ibu maupun kecukupan protein keluarga tidak selalu berpengaruh pada status gizi remaja. Namun, faktor ekonomi tetap penting: pendapatan rumah tangga berhubungan erat dengan pengeluaran pangan dan tingkat kecukupan protein anggota keluarga.

Dari ranah pelayanan rumah sakit, studi di RSUD Ciamis menemukan bahwa cita rasa makanan berperan besar dalam kepuasan pasien. Pasien yang merasa puas dengan rasa makanan terbukti lebih sedikit menyisakan diet lunak mereka, sementara penyajian makanan tidak memberi pengaruh signifikan.

Artikel lainnya, menyoroti pentingnya program pendampingan gizi pada ibu baduta. Program ini terbukti menurunkan tingkat stres, meningkatkan pengetahuan, serta memperbaiki persepsi mutu pelayanan posyandu. Para peneliti menekankan bahwa pendampingan perlu dilakukan secara berkala agar dampaknya berkelanjutan.

Dengan beragam temuan ini, Jurnal Ilmu Gizi dan Dietetik edisi Maret 2025 memberikan gambaran utuh tentang bagaimana faktor individu, keluarga, hingga lingkungan memengaruhi status gizi masyarakat. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi akademisi, praktisi kesehatan, maupun pembuat kebijakan untuk merancang strategi intervensi gizi yang lebih tepat sasaran. (CDA)